Jumat, 28 Februari 2014

Jadi, inilah si Budi. Ia tidak kuyup menggigil


“Jadi pakai apa mas?”

Saya tersadar dari lamunan ketika suara si mbak penjaga warteg itu menegur. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih telur dadar dengan sedikit sambal beserta kuah sayur sebagai lauk nasi. Yah, untuk makan siang hari ini, itu saja cukup.

Awalnya saya ingin memesan sepiring nasi dengan lauk yang enak-enak. Seperti gulai ayam, rendang paru, ati ampela, tempe orek pedas manis, atau yang lainnya. Namun saya urungkan niat tersebut, karena tepat di sebelah saya seorang bocah sedang lahap memakan nasi hanya dengan dibumbui kecap dan selembar tempe goreng. Saya agak iba melihatnya.

“Abang boleh makan apa aja kok, Bang. Saya gak apa-apa.” Ucap bocah itu enteng. Seolah ia bisa menebak apa yang terlintas di benak saya.

“Ah, emang biasa begini kok.” Jawab saya takut menyinggung perasaannya. Setelah itu, sambil makan, saya mulai menanyainya beberapa pertanyaan.

Jadi, bocah ini namanya Budi. Umurnya tiga belas tahun. Ia tinggal di sekitaran ciledug.

“Ke sini naik apa?”

“Odong-odong.” Jawabnya sambil menunjuk sebuah odong-odong yang terparkir di luar warteg.

Karena semakin heran, saya mulai banyak tanya. Semula ia hanya menjawab sekedarnya. Tapi lama kelamaan, ia menjadi asyik bercerita. Jujur, saya sangat tertarik mendengar ceritanya. Karena ia menceritakan tentang betapa buruk hidupnya dengan gaya bicara yang sangat riang. Polos. Seperti tidak ada beban sedikitpun.

“Kenapa tidak sekolah?”

Karena harus bekerja, ia berhenti sekolah, katanya. Budi memiliki dua orang adik yang masih duduk di sekolah dasar. Bapaknya entah ke mana. Ibunya seperti mayat hidup di rumah. Entah sakit apa, si Ibu nyaris tak sanggup lagi untuk sekedar bangun dari berbaring. Badanya bergetar, lemas dan keluar keringat dingin kalau kelamaan berdiri. Jangankan untuk kerja berat, sekedar berdiri saja sudah seperti itu.

“Awalnya ibu bilang sakit mag. Kalau makan pasti muntah.” Ujarnya.

Karena kondisi si ibu seperti itu, kini Budi mengambil alih semua pekerjaan rumah tangganya. Setiap hari, ia bangun pagi-pagi betul untuk mengantar koran ke rumah-rumah. Setelah selesai, ia kembali untuk mengemasi adik-adiknya berangkat ke sekolah, kemudian mengantar mereka dengan sepeda.

Setelah beres, ia kembali ke rumah. Berbenah. Kemudian mengurus ibunya yang terkadang berbicara yang aneh-aneh. Budi bilang, salah seorang dokter dari beberapa dokter yang pernah ia datangi untuk mengobati ibunya berkata bahwa ibunya sakit akibat kelewat stres, terlalu banyak pikiran. Mungkin si ibu sulit menerima kenyataan harus mengurus tiga orang anaknya yang belum dewasa seorang diri, yang dianggapnya sebagai beban.

“Kalau siang baru saya keliling bawa odong-odong punya tetangga. Enak, setorannya berapa aja.” Budi menjawab pertanyaan yang muncul di benak saya sejak tadi. Sebelumnya dia juga bilang, kalau hari sabtu minggu kadang dia ikut katering acara orang nikahan. Lumayan bayarannya.

“Kalau narik odong-odong capek genjotnya doang. Tapi seru, bisa ngehibur anak kecil.”

Budi bercerita, sering kali ada seorang bocah menangis di hadapannya karena saking inginnya naik odong-odong. Maka ia menaikkan bocah cengeng tadi ke odong-odongnya dengan gratis.

“Soalnya saya kasihan bang ngeliatnya.” Ucapnya yang membuat hati saya benar-benar terharu lagi teriris.

Selesai makan, saya mengeluarkan uang bermaksud membayar makanan saya dan Budi sekalian. Seperti telah menebak niat saya, Budi buru-buru menyerahkan uangnya ke pelayan warteg. Saya berusaha mencegah, namun gagal. Budi menolak untuk dibayarkan makan siangnya.

“Yaudah. ini Bud, buat kamu. Anggap aja gantiin bayaran anak-anak kecil yang naik odong-odong kamu tapi gak bayar.” Ucap saya seraya menyerahkan selembar lima puluh ribuan. Lagi-lagi ia menolak.

“Kalau abang bayar, nanti saya gak dapet pahala dong karena udah nyenengin anak-anak kecil itu.” jawabnya polos sambil cengengesan. Kemudian ia pamit untuk mulai mencari nafkah lagi.

Melihat ia berlalu dengan menggenjot odong-odong yang kadang harus dengan tenaga ekstra  sampai urat-uratnya tampak, perasaan saya campur aduk. Di usia yang belum seharusnya itu, ia sudah sanggup menantang kerasnya hidup dengan perasaan seolah-olah itu tidak apa-apa. Jelas sekali betapa di usianya yang masih sangat remaja ia sudah mengerti arti tanggung jawab, pengorbanan, dan rasa syukur.

Yang lebih membuat batin saya terasa tertonjok, ia masih bisa berbuat baik kepada orang lain dalam keadaan di mana nasib memperlakukan dirinya dengan tidak baik.

“Ah, anak sekecil itu.”

Desember terik, bintaro setengah satu siang. 2013

*repost dari inspirasi.co
tulisan lomba yang tidak menang :') 

“Jadi pakai apa mas?”

Saya tersadar dari lamunan ketika suara si mbak penjaga warteg itu menegur. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih telur dadar dengan sedikit sambal beserta kuah sayur sebagai lauk nasi. Yah, untuk makan siang hari ini, itu saja cukup.

Awalnya saya ingin memesan sepiring nasi dengan lauk yang enak-enak. Seperti gulai ayam, rendang paru, ati ampela, tempe orek pedas manis, atau yang lainnya. Namun saya urungkan niat tersebut, karena tepat di sebelah saya seorang bocah sedang lahap memakan nasi hanya dengan dibumbui kecap dan selembar tempe goreng. Saya agak iba melihatnya.

“Abang boleh makan apa aja kok, Bang. Saya gak apa-apa.” Ucap bocah itu enteng. Seolah ia bisa menebak apa yang terlintas di benak saya.

“Ah, emang biasa begini kok.” Jawab saya takut menyinggung perasaannya. Setelah itu, sambil makan, saya mulai menanyainya beberapa pertanyaan.

Jadi, bocah ini namanya Budi. Umurnya tiga belas tahun. Ia tinggal di sekitaran ciledug.

“Ke sini naik apa?”

“Odong-odong.” Jawabnya sambil menunjuk sebuah odong-odong yang terparkir di luar warteg.

Karena semakin heran, saya mulai banyak tanya. Semula ia hanya menjawab sekedarnya. Tapi lama kelamaan, ia menjadi asyik bercerita. Jujur, saya sangat tertarik mendengar ceritanya. Karena ia menceritakan tentang betapa buruk hidupnya dengan gaya bicara yang sangat riang. Polos. Seperti tidak ada beban sedikitpun.

“Kenapa tidak sekolah?”

Karena harus bekerja, ia berhenti sekolah, katanya. Budi memiliki dua orang adik yang masih duduk di sekolah dasar. Bapaknya entah ke mana. Ibunya seperti mayat hidup di rumah. Entah sakit apa, si Ibu nyaris tak sanggup lagi untuk sekedar bangun dari berbaring. Badanya bergetar, lemas dan keluar keringat dingin kalau kelamaan berdiri. Jangankan untuk kerja berat, sekedar berdiri saja sudah seperti itu.

“Awalnya ibu bilang sakit mag. Kalau makan pasti muntah.” Ujarnya.

Karena kondisi si ibu seperti itu, kini Budi mengambil alih semua pekerjaan rumah tangganya. Setiap hari, ia bangun pagi-pagi betul untuk mengantar koran ke rumah-rumah. Setelah selesai, ia kembali untuk mengemasi adik-adiknya berangkat ke sekolah, kemudian mengantar mereka dengan sepeda.

Setelah beres, ia kembali ke rumah. Berbenah. Kemudian mengurus ibunya yang terkadang berbicara yang aneh-aneh. Budi bilang, salah seorang dokter dari beberapa dokter yang pernah ia datangi untuk mengobati ibunya berkata bahwa ibunya sakit akibat kelewat stres, terlalu banyak pikiran. Mungkin si ibu sulit menerima kenyataan harus mengurus tiga orang anaknya yang belum dewasa seorang diri, yang dianggapnya sebagai beban.

“Kalau siang baru saya keliling bawa odong-odong punya tetangga. Enak, setorannya berapa aja.” Budi menjawab pertanyaan yang muncul di benak saya sejak tadi. Sebelumnya dia juga bilang, kalau hari sabtu minggu kadang dia ikut katering acara orang nikahan. Lumayan bayarannya.

“Kalau narik odong-odong capek genjotnya doang. Tapi seru, bisa ngehibur anak kecil.”

Budi bercerita, sering kali ada seorang bocah menangis di hadapannya karena saking inginnya naik odong-odong. Maka ia menaikkan bocah cengeng tadi ke odong-odongnya dengan gratis.

“Soalnya saya kasihan bang ngeliatnya.” Ucapnya yang membuat hati saya benar-benar terharu lagi teriris.

Selesai makan, saya mengeluarkan uang bermaksud membayar makanan saya dan Budi sekalian. Seperti telah menebak niat saya, Budi buru-buru menyerahkan uangnya ke pelayan warteg. Saya berusaha mencegah, namun gagal. Budi menolak untuk dibayarkan makan siangnya.

“Yaudah. ini Bud, buat kamu. Anggap aja gantiin bayaran anak-anak kecil yang naik odong-odong kamu tapi gak bayar.” Ucap saya seraya menyerahkan selembar lima puluh ribuan. Lagi-lagi ia menolak.

“Kalau abang bayar, nanti saya gak dapet pahala dong karena udah nyenengin anak-anak kecil itu.” jawabnya polos sambil cengengesan. Kemudian ia pamit untuk mulai mencari nafkah lagi.

Melihat ia berlalu dengan menggenjot odong-odong yang kadang harus dengan tenaga ekstra  sampai urat-uratnya tampak, perasaan saya campur aduk. Di usia yang belum seharusnya itu, ia sudah sanggup menantang kerasnya hidup dengan perasaan seolah-olah itu tidak apa-apa. Jelas sekali betapa di usianya yang masih sangat remaja ia sudah mengerti arti tanggung jawab, pengorbanan, dan rasa syukur.

Yang lebih membuat batin saya terasa tertonjok, ia masih bisa berbuat baik kepada orang lain dalam keadaan di mana nasib memperlakukan dirinya dengan tidak baik.

“Ah, anak sekecil itu.”
- See more at: http://inspirasi.co/forum/post/402/jadi_inilah_si_budi_ia_tidak_kuyup_menggigil#sthash.BpniUQgK.dpuf
“Jadi pakai apa mas?”

Saya tersadar dari lamunan ketika suara si mbak penjaga warteg itu menegur. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih telur dadar dengan sedikit sambal beserta kuah sayur sebagai lauk nasi. Yah, untuk makan siang hari ini, itu saja cukup.

Awalnya saya ingin memesan sepiring nasi dengan lauk yang enak-enak. Seperti gulai ayam, rendang paru, ati ampela, tempe orek pedas manis, atau yang lainnya. Namun saya urungkan niat tersebut, karena tepat di sebelah saya seorang bocah sedang lahap memakan nasi hanya dengan dibumbui kecap dan selembar tempe goreng. Saya agak iba melihatnya.

“Abang boleh makan apa aja kok, Bang. Saya gak apa-apa.” Ucap bocah itu enteng. Seolah ia bisa menebak apa yang terlintas di benak saya.

“Ah, emang biasa begini kok.” Jawab saya takut menyinggung perasaannya. Setelah itu, sambil makan, saya mulai menanyainya beberapa pertanyaan.

Jadi, bocah ini namanya Budi. Umurnya tiga belas tahun. Ia tinggal di sekitaran ciledug.

“Ke sini naik apa?”

“Odong-odong.” Jawabnya sambil menunjuk sebuah odong-odong yang terparkir di luar warteg.

Karena semakin heran, saya mulai banyak tanya. Semula ia hanya menjawab sekedarnya. Tapi lama kelamaan, ia menjadi asyik bercerita. Jujur, saya sangat tertarik mendengar ceritanya. Karena ia menceritakan tentang betapa buruk hidupnya dengan gaya bicara yang sangat riang. Polos. Seperti tidak ada beban sedikitpun.

“Kenapa tidak sekolah?”

Karena harus bekerja, ia berhenti sekolah, katanya. Budi memiliki dua orang adik yang masih duduk di sekolah dasar. Bapaknya entah ke mana. Ibunya seperti mayat hidup di rumah. Entah sakit apa, si Ibu nyaris tak sanggup lagi untuk sekedar bangun dari berbaring. Badanya bergetar, lemas dan keluar keringat dingin kalau kelamaan berdiri. Jangankan untuk kerja berat, sekedar berdiri saja sudah seperti itu.

“Awalnya ibu bilang sakit mag. Kalau makan pasti muntah.” Ujarnya.

Karena kondisi si ibu seperti itu, kini Budi mengambil alih semua pekerjaan rumah tangganya. Setiap hari, ia bangun pagi-pagi betul untuk mengantar koran ke rumah-rumah. Setelah selesai, ia kembali untuk mengemasi adik-adiknya berangkat ke sekolah, kemudian mengantar mereka dengan sepeda.

Setelah beres, ia kembali ke rumah. Berbenah. Kemudian mengurus ibunya yang terkadang berbicara yang aneh-aneh. Budi bilang, salah seorang dokter dari beberapa dokter yang pernah ia datangi untuk mengobati ibunya berkata bahwa ibunya sakit akibat kelewat stres, terlalu banyak pikiran. Mungkin si ibu sulit menerima kenyataan harus mengurus tiga orang anaknya yang belum dewasa seorang diri, yang dianggapnya sebagai beban.

“Kalau siang baru saya keliling bawa odong-odong punya tetangga. Enak, setorannya berapa aja.” Budi menjawab pertanyaan yang muncul di benak saya sejak tadi. Sebelumnya dia juga bilang, kalau hari sabtu minggu kadang dia ikut katering acara orang nikahan. Lumayan bayarannya.

“Kalau narik odong-odong capek genjotnya doang. Tapi seru, bisa ngehibur anak kecil.”

Budi bercerita, sering kali ada seorang bocah menangis di hadapannya karena saking inginnya naik odong-odong. Maka ia menaikkan bocah cengeng tadi ke odong-odongnya dengan gratis.

“Soalnya saya kasihan bang ngeliatnya.” Ucapnya yang membuat hati saya benar-benar terharu lagi teriris.

Selesai makan, saya mengeluarkan uang bermaksud membayar makanan saya dan Budi sekalian. Seperti telah menebak niat saya, Budi buru-buru menyerahkan uangnya ke pelayan warteg. Saya berusaha mencegah, namun gagal. Budi menolak untuk dibayarkan makan siangnya.

“Yaudah. ini Bud, buat kamu. Anggap aja gantiin bayaran anak-anak kecil yang naik odong-odong kamu tapi gak bayar.” Ucap saya seraya menyerahkan selembar lima puluh ribuan. Lagi-lagi ia menolak.

“Kalau abang bayar, nanti saya gak dapet pahala dong karena udah nyenengin anak-anak kecil itu.” jawabnya polos sambil cengengesan. Kemudian ia pamit untuk mulai mencari nafkah lagi.

Melihat ia berlalu dengan menggenjot odong-odong yang kadang harus dengan tenaga ekstra  sampai urat-uratnya tampak, perasaan saya campur aduk. Di usia yang belum seharusnya itu, ia sudah sanggup menantang kerasnya hidup dengan perasaan seolah-olah itu tidak apa-apa. Jelas sekali betapa di usianya yang masih sangat remaja ia sudah mengerti arti tanggung jawab, pengorbanan, dan rasa syukur.

Yang lebih membuat batin saya terasa tertonjok, ia masih bisa berbuat baik kepada orang lain dalam keadaan di mana nasib memperlakukan dirinya dengan tidak baik.

“Ah, anak sekecil itu.”
- See more at: http://inspirasi.co/forum/post/402/jadi_inilah_si_budi_ia_tidak_kuyup_menggigil#sthash.BpniUQgK.dpuf
“Jadi pakai apa mas?”

Saya tersadar dari lamunan ketika suara si mbak penjaga warteg itu menegur. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih telur dadar dengan sedikit sambal beserta kuah sayur sebagai lauk nasi. Yah, untuk makan siang hari ini, itu saja cukup.

Awalnya saya ingin memesan sepiring nasi dengan lauk yang enak-enak. Seperti gulai ayam, rendang paru, ati ampela, tempe orek pedas manis, atau yang lainnya. Namun saya urungkan niat tersebut, karena tepat di sebelah saya seorang bocah sedang lahap memakan nasi hanya dengan dibumbui kecap dan selembar tempe goreng. Saya agak iba melihatnya.

“Abang boleh makan apa aja kok, Bang. Saya gak apa-apa.” Ucap bocah itu enteng. Seolah ia bisa menebak apa yang terlintas di benak saya.

“Ah, emang biasa begini kok.” Jawab saya takut menyinggung perasaannya. Setelah itu, sambil makan, saya mulai menanyainya beberapa pertanyaan.

Jadi, bocah ini namanya Budi. Umurnya tiga belas tahun. Ia tinggal di sekitaran ciledug.

“Ke sini naik apa?”

“Odong-odong.” Jawabnya sambil menunjuk sebuah odong-odong yang terparkir di luar warteg.

Karena semakin heran, saya mulai banyak tanya. Semula ia hanya menjawab sekedarnya. Tapi lama kelamaan, ia menjadi asyik bercerita. Jujur, saya sangat tertarik mendengar ceritanya. Karena ia menceritakan tentang betapa buruk hidupnya dengan gaya bicara yang sangat riang. Polos. Seperti tidak ada beban sedikitpun.

“Kenapa tidak sekolah?”

Karena harus bekerja, ia berhenti sekolah, katanya. Budi memiliki dua orang adik yang masih duduk di sekolah dasar. Bapaknya entah ke mana. Ibunya seperti mayat hidup di rumah. Entah sakit apa, si Ibu nyaris tak sanggup lagi untuk sekedar bangun dari berbaring. Badanya bergetar, lemas dan keluar keringat dingin kalau kelamaan berdiri. Jangankan untuk kerja berat, sekedar berdiri saja sudah seperti itu.

“Awalnya ibu bilang sakit mag. Kalau makan pasti muntah.” Ujarnya.

Karena kondisi si ibu seperti itu, kini Budi mengambil alih semua pekerjaan rumah tangganya. Setiap hari, ia bangun pagi-pagi betul untuk mengantar koran ke rumah-rumah. Setelah selesai, ia kembali untuk mengemasi adik-adiknya berangkat ke sekolah, kemudian mengantar mereka dengan sepeda.

Setelah beres, ia kembali ke rumah. Berbenah. Kemudian mengurus ibunya yang terkadang berbicara yang aneh-aneh. Budi bilang, salah seorang dokter dari beberapa dokter yang pernah ia datangi untuk mengobati ibunya berkata bahwa ibunya sakit akibat kelewat stres, terlalu banyak pikiran. Mungkin si ibu sulit menerima kenyataan harus mengurus tiga orang anaknya yang belum dewasa seorang diri, yang dianggapnya sebagai beban.

“Kalau siang baru saya keliling bawa odong-odong punya tetangga. Enak, setorannya berapa aja.” Budi menjawab pertanyaan yang muncul di benak saya sejak tadi. Sebelumnya dia juga bilang, kalau hari sabtu minggu kadang dia ikut katering acara orang nikahan. Lumayan bayarannya.

“Kalau narik odong-odong capek genjotnya doang. Tapi seru, bisa ngehibur anak kecil.”

Budi bercerita, sering kali ada seorang bocah menangis di hadapannya karena saking inginnya naik odong-odong. Maka ia menaikkan bocah cengeng tadi ke odong-odongnya dengan gratis.

“Soalnya saya kasihan bang ngeliatnya.” Ucapnya yang membuat hati saya benar-benar terharu lagi teriris.

Selesai makan, saya mengeluarkan uang bermaksud membayar makanan saya dan Budi sekalian. Seperti telah menebak niat saya, Budi buru-buru menyerahkan uangnya ke pelayan warteg. Saya berusaha mencegah, namun gagal. Budi menolak untuk dibayarkan makan siangnya.

“Yaudah. ini Bud, buat kamu. Anggap aja gantiin bayaran anak-anak kecil yang naik odong-odong kamu tapi gak bayar.” Ucap saya seraya menyerahkan selembar lima puluh ribuan. Lagi-lagi ia menolak.

“Kalau abang bayar, nanti saya gak dapet pahala dong karena udah nyenengin anak-anak kecil itu.” jawabnya polos sambil cengengesan. Kemudian ia pamit untuk mulai mencari nafkah lagi.

Melihat ia berlalu dengan menggenjot odong-odong yang kadang harus dengan tenaga ekstra  sampai urat-uratnya tampak, perasaan saya campur aduk. Di usia yang belum seharusnya itu, ia sudah sanggup menantang kerasnya hidup dengan perasaan seolah-olah itu tidak apa-apa. Jelas sekali betapa di usianya yang masih sangat remaja ia sudah mengerti arti tanggung jawab, pengorbanan, dan rasa syukur.

Yang lebih membuat batin saya terasa tertonjok, ia masih bisa berbuat baik kepada orang lain dalam keadaan di mana nasib memperlakukan dirinya dengan tidak baik.

“Ah, anak sekecil itu.”
- See more at: http://inspirasi.co/forum/post/402/jadi_inilah_si_budi_ia_tidak_kuyup_menggigil#sthash.BpniUQgK.dpuf
“Jadi pakai apa mas?”

Saya tersadar dari lamunan ketika suara si mbak penjaga warteg itu menegur. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih telur dadar dengan sedikit sambal beserta kuah sayur sebagai lauk nasi. Yah, untuk makan siang hari ini, itu saja cukup.

Awalnya saya ingin memesan sepiring nasi dengan lauk yang enak-enak. Seperti gulai ayam, rendang paru, ati ampela, tempe orek pedas manis, atau yang lainnya. Namun saya urungkan niat tersebut, karena tepat di sebelah saya seorang bocah sedang lahap memakan nasi hanya dengan dibumbui kecap dan selembar tempe goreng. Saya agak iba melihatnya.

“Abang boleh makan apa aja kok, Bang. Saya gak apa-apa.” Ucap bocah itu enteng. Seolah ia bisa menebak apa yang terlintas di benak saya.

“Ah, emang biasa begini kok.” Jawab saya takut menyinggung perasaannya. Setelah itu, sambil makan, saya mulai menanyainya beberapa pertanyaan.

Jadi, bocah ini namanya Budi. Umurnya tiga belas tahun. Ia tinggal di sekitaran ciledug.

“Ke sini naik apa?”

“Odong-odong.” Jawabnya sambil menunjuk sebuah odong-odong yang terparkir di luar warteg.

Karena semakin heran, saya mulai banyak tanya. Semula ia hanya menjawab sekedarnya. Tapi lama kelamaan, ia menjadi asyik bercerita. Jujur, saya sangat tertarik mendengar ceritanya. Karena ia menceritakan tentang betapa buruk hidupnya dengan gaya bicara yang sangat riang. Polos. Seperti tidak ada beban sedikitpun.

“Kenapa tidak sekolah?”

Karena harus bekerja, ia berhenti sekolah, katanya. Budi memiliki dua orang adik yang masih duduk di sekolah dasar. Bapaknya entah ke mana. Ibunya seperti mayat hidup di rumah. Entah sakit apa, si Ibu nyaris tak sanggup lagi untuk sekedar bangun dari berbaring. Badanya bergetar, lemas dan keluar keringat dingin kalau kelamaan berdiri. Jangankan untuk kerja berat, sekedar berdiri saja sudah seperti itu.

“Awalnya ibu bilang sakit mag. Kalau makan pasti muntah.” Ujarnya.

Karena kondisi si ibu seperti itu, kini Budi mengambil alih semua pekerjaan rumah tangganya. Setiap hari, ia bangun pagi-pagi betul untuk mengantar koran ke rumah-rumah. Setelah selesai, ia kembali untuk mengemasi adik-adiknya berangkat ke sekolah, kemudian mengantar mereka dengan sepeda.

Setelah beres, ia kembali ke rumah. Berbenah. Kemudian mengurus ibunya yang terkadang berbicara yang aneh-aneh. Budi bilang, salah seorang dokter dari beberapa dokter yang pernah ia datangi untuk mengobati ibunya berkata bahwa ibunya sakit akibat kelewat stres, terlalu banyak pikiran. Mungkin si ibu sulit menerima kenyataan harus mengurus tiga orang anaknya yang belum dewasa seorang diri, yang dianggapnya sebagai beban.

“Kalau siang baru saya keliling bawa odong-odong punya tetangga. Enak, setorannya berapa aja.” Budi menjawab pertanyaan yang muncul di benak saya sejak tadi. Sebelumnya dia juga bilang, kalau hari sabtu minggu kadang dia ikut katering acara orang nikahan. Lumayan bayarannya.

“Kalau narik odong-odong capek genjotnya doang. Tapi seru, bisa ngehibur anak kecil.”

Budi bercerita, sering kali ada seorang bocah menangis di hadapannya karena saking inginnya naik odong-odong. Maka ia menaikkan bocah cengeng tadi ke odong-odongnya dengan gratis.

“Soalnya saya kasihan bang ngeliatnya.” Ucapnya yang membuat hati saya benar-benar terharu lagi teriris.

Selesai makan, saya mengeluarkan uang bermaksud membayar makanan saya dan Budi sekalian. Seperti telah menebak niat saya, Budi buru-buru menyerahkan uangnya ke pelayan warteg. Saya berusaha mencegah, namun gagal. Budi menolak untuk dibayarkan makan siangnya.

“Yaudah. ini Bud, buat kamu. Anggap aja gantiin bayaran anak-anak kecil yang naik odong-odong kamu tapi gak bayar.” Ucap saya seraya menyerahkan selembar lima puluh ribuan. Lagi-lagi ia menolak.

“Kalau abang bayar, nanti saya gak dapet pahala dong karena udah nyenengin anak-anak kecil itu.” jawabnya polos sambil cengengesan. Kemudian ia pamit untuk mulai mencari nafkah lagi.

Melihat ia berlalu dengan menggenjot odong-odong yang kadang harus dengan tenaga ekstra  sampai urat-uratnya tampak, perasaan saya campur aduk. Di usia yang belum seharusnya itu, ia sudah sanggup menantang kerasnya hidup dengan perasaan seolah-olah itu tidak apa-apa. Jelas sekali betapa di usianya yang masih sangat remaja ia sudah mengerti arti tanggung jawab, pengorbanan, dan rasa syukur.

Yang lebih membuat batin saya terasa tertonjok, ia masih bisa berbuat baik kepada orang lain dalam keadaan di mana nasib memperlakukan dirinya dengan tidak baik.

“Ah, anak sekecil itu.”
- See more at: http://inspirasi.co/forum/post/402/jadi_inilah_si_budi_ia_tidak_kuyup_menggigil#sthash.BpniUQgK.dpuf
“Jadi pakai apa mas?”

Saya tersadar dari lamunan ketika suara si mbak penjaga warteg itu menegur. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih telur dadar dengan sedikit sambal beserta kuah sayur sebagai lauk nasi. Yah, untuk makan siang hari ini, itu saja cukup.

Awalnya saya ingin memesan sepiring nasi dengan lauk yang enak-enak. Seperti gulai ayam, rendang paru, ati ampela, tempe orek pedas manis, atau yang lainnya. Namun saya urungkan niat tersebut, karena tepat di sebelah saya seorang bocah sedang lahap memakan nasi hanya dengan dibumbui kecap dan selembar tempe goreng. Saya agak iba melihatnya.

“Abang boleh makan apa aja kok, Bang. Saya gak apa-apa.” Ucap bocah itu enteng. Seolah ia bisa menebak apa yang terlintas di benak saya.

“Ah, emang biasa begini kok.” Jawab saya takut menyinggung perasaannya. Setelah itu, sambil makan, saya mulai menanyainya beberapa pertanyaan.

Jadi, bocah ini namanya Budi. Umurnya tiga belas tahun. Ia tinggal di sekitaran ciledug.

“Ke sini naik apa?”

“Odong-odong.” Jawabnya sambil menunjuk sebuah odong-odong yang terparkir di luar warteg.

Karena semakin heran, saya mulai banyak tanya. Semula ia hanya menjawab sekedarnya. Tapi lama kelamaan, ia menjadi asyik bercerita. Jujur, saya sangat tertarik mendengar ceritanya. Karena ia menceritakan tentang betapa buruk hidupnya dengan gaya bicara yang sangat riang. Polos. Seperti tidak ada beban sedikitpun.

“Kenapa tidak sekolah?”

Karena harus bekerja, ia berhenti sekolah, katanya. Budi memiliki dua orang adik yang masih duduk di sekolah dasar. Bapaknya entah ke mana. Ibunya seperti mayat hidup di rumah. Entah sakit apa, si Ibu nyaris tak sanggup lagi untuk sekedar bangun dari berbaring. Badanya bergetar, lemas dan keluar keringat dingin kalau kelamaan berdiri. Jangankan untuk kerja berat, sekedar berdiri saja sudah seperti itu.

“Awalnya ibu bilang sakit mag. Kalau makan pasti muntah.” Ujarnya.

Karena kondisi si ibu seperti itu, kini Budi mengambil alih semua pekerjaan rumah tangganya. Setiap hari, ia bangun pagi-pagi betul untuk mengantar koran ke rumah-rumah. Setelah selesai, ia kembali untuk mengemasi adik-adiknya berangkat ke sekolah, kemudian mengantar mereka dengan sepeda.

Setelah beres, ia kembali ke rumah. Berbenah. Kemudian mengurus ibunya yang terkadang berbicara yang aneh-aneh. Budi bilang, salah seorang dokter dari beberapa dokter yang pernah ia datangi untuk mengobati ibunya berkata bahwa ibunya sakit akibat kelewat stres, terlalu banyak pikiran. Mungkin si ibu sulit menerima kenyataan harus mengurus tiga orang anaknya yang belum dewasa seorang diri, yang dianggapnya sebagai beban.

“Kalau siang baru saya keliling bawa odong-odong punya tetangga. Enak, setorannya berapa aja.” Budi menjawab pertanyaan yang muncul di benak saya sejak tadi. Sebelumnya dia juga bilang, kalau hari sabtu minggu kadang dia ikut katering acara orang nikahan. Lumayan bayarannya.

“Kalau narik odong-odong capek genjotnya doang. Tapi seru, bisa ngehibur anak kecil.”

Budi bercerita, sering kali ada seorang bocah menangis di hadapannya karena saking inginnya naik odong-odong. Maka ia menaikkan bocah cengeng tadi ke odong-odongnya dengan gratis.

“Soalnya saya kasihan bang ngeliatnya.” Ucapnya yang membuat hati saya benar-benar terharu lagi teriris.

Selesai makan, saya mengeluarkan uang bermaksud membayar makanan saya dan Budi sekalian. Seperti telah menebak niat saya, Budi buru-buru menyerahkan uangnya ke pelayan warteg. Saya berusaha mencegah, namun gagal. Budi menolak untuk dibayarkan makan siangnya.

“Yaudah. ini Bud, buat kamu. Anggap aja gantiin bayaran anak-anak kecil yang naik odong-odong kamu tapi gak bayar.” Ucap saya seraya menyerahkan selembar lima puluh ribuan. Lagi-lagi ia menolak.

“Kalau abang bayar, nanti saya gak dapet pahala dong karena udah nyenengin anak-anak kecil itu.” jawabnya polos sambil cengengesan. Kemudian ia pamit untuk mulai mencari nafkah lagi.

Melihat ia berlalu dengan menggenjot odong-odong yang kadang harus dengan tenaga ekstra  sampai urat-uratnya tampak, perasaan saya campur aduk. Di usia yang belum seharusnya itu, ia sudah sanggup menantang kerasnya hidup dengan perasaan seolah-olah itu tidak apa-apa. Jelas sekali betapa di usianya yang masih sangat remaja ia sudah mengerti arti tanggung jawab, pengorbanan, dan rasa syukur.

Yang lebih membuat batin saya terasa tertonjok, ia masih bisa berbuat baik kepada orang lain dalam keadaan di mana nasib memperlakukan dirinya dengan tidak baik.

“Ah, anak sekecil itu.”
- See more at: http://inspirasi.co/forum/post/402/jadi_inilah_si_budi_ia_tidak_kuyup_menggigil#sthash.BpniUQgK.dpuf

Senin, 04 Februari 2013

Antara Mengenal dan Mengenangmu, betapa sulitnya membedakan itu

"Kamu sedih?"

Aku tahu kau akan berkata tidak. Meski selintas aku melihat, ada sesuatu yang membasahi pipimu

"Mau aku bawakan segelas air?"

"Mau aku ceritakan sesuatu yang lucu?"

"Mau donat?"

"Mau aku pijat?"

Kau masih berkata tidak. Sampai akhirnya kau berkata iya, ketika aku bertanya apakah kau mau aku diam. Dan setelah itu aku hanya duduk sambil diam, seraya terus memperhatikan tingkahmu yang semakin sulit dimengerti.

"Apa kau menyesal?" Kataku setelah hampir satu jam.

"Tadi kau bilang ingin diam, bukan?"

"Tapi aku tidak terus-terusan diam kalau kau begini terus-terusan."

"Kau membosankan."

"Aku?"

"Ya."

"Kau bilang aku membosankan?"

"Ini sangat lucu. Bahkan kau tidak pernah memberiku tip, dulu."

 "Kau menyedihkan."

"Aku tidak pernah menipu orang."

Orang-orang yang lewat mulai memandangi, aku mencoba tidak peduli. Tapi kau peduli. Itu membuatmu pergi bersama marahmu yang tak kau jelaskan.

Aku terlanjur merasa sakit hati kau tinggal begitu saja tanpa pengertian. Ingin rasanya aku ledakkan kota ini sehingga kau hancur bersama orang-orang yang menertawakanku. Namun tidak kulakukan. Aku hanya bisa bersedih, seraya menahan wajah agar tidak basah.


"Kamu sedih?"

Aku tahu aku akan berkata tidak. Meski selintas ia melihat, ada sesuatu yang membasahi pipiku

"Mau aku bawakan segelas air?"

"Mau aku ceritakan sesuatu yang lucu?"

"Mau donat?"

"Mau aku Pijat?"

Aku menoleh kepadanya. Ia wanita yang memiliki senyum lucu. Kau pun mengenalnya. Sejak saat itu aku mulai mengenalnya baik-baik. Ia secantik ibumu, tapi sebaik ibuku. Aku dan ia mulai sering bertukar janji, mulai saling peduli. Sampai ketika kau datang kembali, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk tidak peduli lagi.





Selasa, 29 Januari 2013

Gravitasi lagu Armada


Dalam perjalanan...

Aku duduk di dekat jendela. Di sisiku seorang pemuda sibuk menyantap buku tebal berbahasa asing. Aku dan ia saling tidak peduli. Aku perhatikan memang jarang ada yang saling peduli satu sama lain di dalam bus ini. Mereka sibuk dengan ihwal masing-masing. Jendela menjadi pusat kesibukanku sejak tadi. Fokus ke pemandangan sepanjang perjalan, ditemani sayup-sayup lagu di telinga yang berbisik melalui sepasang earphone.

Beberapa mil jauhnya bus ini telah mengantarku menjauhi terminal, menjauhi Jakarta. Melancong seorang diri keluar kota menjadi hal baru yang menyenangkan bagiku belakangan ini.  Suasana di dalam bus masih sama sejak tadi. Senyap, terlalu sepi bahkan untuk ukuran bus sebesar ini.

Namun, tidak sampai sekelompok orang berstelan preman nyelonong naik ke dalam bus mewah ini. Tampang mereka lusuh-lusuh, pakaian mereka kumal dan berantakan. Salah satu dari mereka mengenakan anting palsu di sebelah telinganya, mengesankan berandalan adalah mereka. Satunya lagi bertato, entah temporary atau permanen, cukup sukses dandanan mereka pagi ini membuat segenap penumpang seisi bus ini kasak-kusuk terasa terusik.

Masing-masing dari mereka membawa alat musik. Sesuai apa yang mereka katakan saat perwakilan mereka mengutarakan kalimat pembuka, mereka bukan penjahat. Atau setidaknya maksud awal mereka di dalam bus ini bukan untuk berbuat jahat. Mereka hanya ingin berdendang, mengusir sepi, menghibur penumpang.

Tembang pembuka mereka bawakan. Sebuah lagu yang umum kita dengar saat kita berada di transportasi umum: senandung yang berisi tentang kerasnya kehidupan anak jalanan, tentang kehidupan kota yang kejam, tentang nasib. Para penumpang, termasuk aku kembali sibuk dengan pikiran masing-masing.  Bahkan tak seorangpun yang rela mengalihkan sekedipan mata untuk menghargai tiga pemuda ini bernyanyi. Selain suara penyanyi pas-pasan, tak ada hal menarik, memang, dengan apa yang sedang mereka usahakan.

Malahan, rata-rata dari kami menganggap sekelompok pemuda berpotongan berandalan ini sebagai pengganggu ketenangan. Sejenak aku mengalihkan perhatianku ke wajah-wajah penumpang yang tampak terlihat kesal dengan kehadiran para bujangan muda ini. Ada beberapa yang tampak was-was, takut-takut kalau pemuda ini ternyata bukan sekedar pengamen, namun berniat lain. Seorang ibu berpenampilan nyentrik memeluk tas nya kuat-kuat, meski ia tetap sitetap ke smartphone nya yang sedang  diutak-atik.

Belum sepenuhnya selesai tembang pertama dinyanyikan, mereka menyambung ke lagu selanjutnya. Kali ini mereka mendendangkan sebuah lagu pop yang mainstream, sering kita dengar di acara-acara televisi, radio, di departemen store, swalayan, atau di tempat karaoke.


Selalu saja kau  anggap ku lemah

Merasa hebat dengan yang kau punya

Kau sombongkan itu semua

Meski aku bukan penggemar band pemilik lagu ini, aku tahu betul mereka tidak menyanyikannya dari bait pertama lagu ini. Entah mereka sengaja atau memang tidak hafal lirik lagu sepenuhnya. Yang jelas, saat melantunkan bait-bait ini, sontak perhatianku teralih ke mereka sepenuhnya, menanggalkan earphoneku, meninggalkan kesibukanku menakjubkan pemandangan di luar jendela.

Aku menoleh seketika ke teman duduk di sebelahku dan beberapa penumpang lain. Beberapa memang kelihatan seperti masih sibuk dengan aktifitas yang mereka lakukan sebelumnya. Namun, aku yakin, sama sepertiku, merasa tersindir dengan lirik yang dinyanyikan para pengamen ini, telinga mereka terpasang untuk ikut menyimak apa yang sedang melolong di sela-sela deru suara mesin bus yang sedang melaju. Hal itu bisa aku baca dari tingkah mereka yang terlihat berbeda dari sebelumnya.

Lelaki separuh baya yang sedari tadi asyik membaca korannya, kini koran itu hanya dibentangkan di hadapannya, sementara tatapanya kosong menekuri langit-langit. Seorang gadis muda yang sibuk dengan telepon genggamnya kini mematung. Matanya tak berkedip menatap tiga pemuda ini. Ibu-ibu yang sedang menidurkan anaknya dipangkuan, sesekali menyembulkan kepalanya dari balik kursi, demi melihat tampang si pemilik suara tulus yang sedang bernyanyi. Kondektur yang tadi asyik mencatat, penanya dimasukkan ke dalam saku. Mulutnya diam membisu, seperti sedang memikirkan sesuatu. Sementara pemuda di sebelahku, berkali-kali ia menghela nafas, sambil mengucapkan sesuatu.

Coba kau lihat dirimu dahulu

Sebelum kau nilai kurangnya diriku

Apa salahnya hargai diriku

Sebelum kau nilai siapa diriku

Bait-bait yang diulang berkali-kali ini seolah menampar kami. Betapa tidak, sejenak kami merasa malu kepada diri sendiri yang kerap menilai orang dari tampak tanpa menelusuri isi. Kami merasa berdosa, karena memandang mereka dengan mata, bukan dengan hati.

Barangkali, mas-mas beranting itu, ternyata memiliki yayasan penganyom anak-anak terlantar di jalanan, seperti mereka yang berlokasi di bulungan, siapa tahu. Atau mungkin pula, pemuda berslayer norak pemain kentrung itu ternyata aktivitas yang memperjuangkan nasib para pengamen jalanan, pedagang asongan, pencopet, dan lainnya agar mereka lebih layak di hadapan undang-undang.

Memang tidak adil jika kita menilai orang hanya dari luar. Karena berapa banyak orang yang penampilannya suci bak penduduk surga, kenyataannya bertingkah lebih hina ketimbang binatang. Dan di sisi lain, berapa banyak orang-orang berpenampilan urakan, akhlaknya santun dan penyayang. Karena dalam agama pun telah dijelaskan, kriteria orang yang baik bukan dilihat dari merek baju yang dikenakkan, tapi dinilai berdasar  berapa besar manfaat dirinya untuk sekitar. 



Minggu, 12 Juni 2011

Perkenankan, saya memperkenalkan: si Pian


Kitalah manusia, yang selalu memiliki beribu alasan untuk menolak kebahagiaan.

Panggil dia “si Pian”. Si ibu biasanya memanggilnya dengan huruf a yang sedikit dipanjangkan: Piaaaaaan! Kadang itu sebagai bentuk ungkapan pemanjaan. Kadang itu sebagai teguran atas kenakalan.

Ya, memang si Pian ini sedikit nakal. Tapi menurut saya dia tidak nakal. Dia hanya bahagia. Berusaha bahagia lebih pasnya.

Terlanjur lahir dengan menyandang predikat penderita sindrom kemerosotan membuat dia selalu melakukan hal-hal yang  mendatangkan kesenangan hanya untuk dirinya. Asik sendiri. Tidak peduli apakah itu kenakalan bentuknya, kejahilan, kekonyolan dilakukan saja asal membuat dia senang. Tak heran banyak orang yang  sangat tidak bersimpati dengannya. Kadang ia dipukul, dimarahi, dihina, dicaci, dikotori oleh sebagian  orang  yang sudah tidak tahu lagi di mana letak hati nurani.

Kalau saya sih, menganggap bocah yang tidak tahu berapa umurnya itu sebagai mata kuliah  “Praktik Kebahagiaan”  yang  diberikan Universitas Kehidupan. Malah,  teman saya lebih sadis lagi. Dia menganggap si Pian itulah kebahagiaan. Karena, kebahagiaan yang ia miliki tidak terbatasi dengan hal apapun,  termasuk kekurangan pada diri.

Si Pian tidak tahu apa itu merah.  Dia tidak tahu bagaimana bentuk angka satu sampai sepuluh. Dia belum bisa berbicara. Yang dia tahu, dia bahagia. Mungkin itu saja.

Dia senang bermain seperti anak kecil kebanyakan. Dia hobi di foto. Suka jajan. Tertawa dan bernyanyi juga sangat disukainya. Walau tak jarang semua itu dilakukan seorang diri, namun sedikit pun dia tidak peduli.

Tapi pernah kalian mengira, bahwa orang seperti dia sangat rajin mematuhi perintah Tuhan dan orang tuanya? Tanpa menuntut hak apapun yang belum, atau bahkan tidak akan dia dapati, dia jalankan saja apa yang menjadi kewajiban atasnya.

Hampir setiap panggilan solat dikumandangkan, saya selalu melihatnya terjingkrak-jingkrak menuju musolah untuk melaksanakan kewajiban. Kewajibannya sebagai hamba Tuhan selalu dijalankan tanpa banyak komentar. Tanpa banyak tanya, apalagi protes.

Jika ia disuruh membuang segondol sampah, maka dibawalah itu sampah, diseret-seret, digotong, diseret lagi, dipikul, dijinjing, diseret-seret lagi sampai kesebuah tempat pembuangan sampah yang cukup jauh jarak dari rumahnya. Tanpa pernah mengeluh, tanpa berkesah. Bahkan dengan ceria tiada tara.

Jika ia disuruh orang tuanya membeli sesuatu di warung, ia langsung meresponnya dengan cepat, lebih cepat dari saudara tua kandungnya yang jauh lebih normal dan bertenaga. Maka dikeluarkanlah sepeda, meski tak ditunggangi hanya dituntun saja sampai ke warung tujuan. Setelah barang yang harus dibelinya telah didapatkan, kembalilah ia dengan menuntun sepeda juga. Dia lakukan begitu, mungkin karena ingin seperti orang-orang yang kemana-mana selalu berkendara.

Suatu ketika ada seorang bocah terjatuh dari sepeda. Bocah itu menangis sejadi-jadinya. Sebelum ada yang memperdulikan itu bocah, si Pian lebih dulu menolongnya. Ia mengangkat sepeda yang menghimpit bocah tersebut, lalu membangunkan si bocah yang terluka. Tidak hanya sampai di situ saja, ia juga mengusap air mata yang menetes di wajah bocah ingusan itu, sambil mengucapkan sebuah kata yang tak jelas lafalnya. Mungkin “sudah, jangan menangis, ya!” maksud ucapannya. Dan saya yang menyaksikan hal itu, hampir melakukan hal yang sama seperti si bocah.

Pada sebuah perbatasan senja yang hampir habis, ketika orang-orang selesai dengan ibadah di waktu magrib, saya melihat dia sedang khusyuk mengangkat keduatangannya. Lirih, parau, jelek, bahkan seperti sedih, serta samar-samar terdengar satu kata yang keluar dari bibirnya, yang mungkin memiliki seribu makna baginya:

“ya Allah”.

Saya tertegun mendengarnya, merinding hati ini sebagai saksinya.

Hingga kini, si Pian selalu menjadi sedikit inspirasi dalam menjalani kehidupan yang kebahagiaan selalu menjadi, masih menjadi, harus menjadi harapan buat saya. Dalam segala kondisi, dalam segala keadaan, dalam menjalankan kewajiban. Tanpa keluhan, tanpa penyesalan. Apalagi ratapan.

Insya Allah.


#Alhamdulillah. Selain hal di atas, si Pian membuat saya menulis blog lagi. Terimakasih. :)

Kamis, 28 April 2011

Aku bersyukur kepada Tuhan yang sering membuatku malu

Di hadapan cermin, aku selalu berkeluh:

"Ah, betapa jeleknya wajah saya. Jerawat subur di mana-mana. Bahkan, bisul tak mau beranjak dari hidung yang memang tak pernah mancung."

Namun, di satu cermin sebuah toilet umum, Tuhan menegurku.

Berdiri di sisiku seseorang yang, wajahnya, nyaris tak berbentuk lagi karena luka bakar. Bekas nanah dan darah, yang tak dapat dibersihkan, lalu gosong, yang abadi, melekat pada rupa atas dari penampakannya yang selalu tersenyum.

Dan di saat itu, di hadapan cermin yang sama denganku, ia tetap tersenyum juga. Seperti sedang mensyukuri apapun yang Tuhan kasih kepadanya.

Saat itu aku merasa malu. Sangat malu.

Suatu ketika, telepon genggam ku rusak. Belum mempunyai uang yang cukup untuk menggantinya, aku kesah:

"Bagaimana ini? Saya tidak punya alat komunikasi lagi. Uang di saku tak cukup, cuma ada dua ratus ribu. Sungguh menyedihkan!"

Di perempatan jalan, Tuhan memprotesku.

Orang yang cukup tua menghampiriku. Ia bersama anak kecil, yang mungkin cucu atau bahkan anaknya. Ia berkata:

"Saya pendatang baru di sini. Saya mengontrak di seberang jalan sana. Saya baru dapat pekerjaan dua hari lalu sebagai tukang sapu. Belum digaji. Maukah tuan meminjamkan uang, sepuluh ribu saja, untuk beli nasi, untuk anak saya yang ingin makan sejak pagi. Demi Allah, saya tidak minta, saya janji akan mengganti"

Aku yang mempunyai uang dua ratus ribu, kini merasa malu. Sangat malu.

Dan banyak lagi serangkaian pengalaman yang sering kutemukan, kualami di jalanan, di persimpangan, di pedesaan, di trotoar, di malam hari, dan di setiap sari-sari murni kehidupan yang semakin mempermalukan aku yang jarang sekali mensyukuri atas apa yang telah ku nikmati, ku miliki.

Dan mulai saat ini, aku berusaha agar tidak merasa malu lagi.

Tuhan, bantu aku.

Minggu, 24 April 2011

Indah yang dipotret


Dia Indah,
Karena dia memang Indah
Ya, namanya Indah
Kini ia sudah menikah.
Semoga saja  menjadi sakinah,
dan selalu saling setia dalam mengarungi bahtera,,

Happy wedding day,
Indah dan Solah.
=D

Rabu, 06 April 2011

Secangkir kopi sekedar pelarian, sesaat saja.

Pada sore hari yang tak biasa.

Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada apa-apa. Hanya hati yang terasa kosong, perasaan yang mengharu biru entah sebab apa. Keindahan terasa aneh dan sayu. Rasa kesedihan seolah menusuk tanpa kejelasan sebab. Begini salah, begitu pun juga. Mengerjakan ini bosan, melakukan itu tidak menyenangkan. Seakan kepala hendak meledak, pusingnya semakin tambah, berlipat menjadi sekian berpangkat sekian keliling. Meski sudah berulang kali dibawa berkeliling.

Jika biasa, sore menjelang senja selalu menyenangkan. Akan saya temukan pada anak-anak kecil yang berkeringat karena tertawa ketika bermain. Semilir angin yang membelai lembut helai rambut perawan malas yang sedang dicarikan kutunya. Para ayah telah pulang dari kantornya, mereka disambut hangat senyuman khas istri mereka sekaligus teh manis buatannya. Selain itu ada juga percakapan jenaka para bujangan kampung yang asyik membicarakan kejagoan burung peliharaan mereka. Dan banyak lagi. Semua itu selalu menjadi alasan saya untuk bersyukur atas diciptakannya satuan waktu seperti ini.

Namun kali ini tidak. Sedari tadi yang saya rasa hanya sepi disekeliling, tanpa tawa, tanpa itu semua. Hanya ada secangkir kopi yang menjadi teman. Dan waktu yang beranjak, semakin kencang.


*Warung kopi. Sore hari. Bulan ini.
17:46

Rabu, 02 Februari 2011

Aku bungkus rapat-rapat ingatan ini.

"Engkau masih tetap cantik!"

Kedua tangannya sibuk menyembunyikan sesuatu. Beberapa lembar kertas berkepala resmi. Seenaknya saja dilipat dalam genggaman, asal-asalan. Sangat jelas menunjukan kepanikan dalam mempertahankan kerahasiaan isi benda itu. Aku tidak peduli pada kertas-kertas itu. Aku lebih tertarik untuk menikmati aura terkejutnya yang murni terjadi. Daya pesona yang masih tetap sama sejak dahulu.

"Aku kira aku baik-baik saja. Kau kira begitu?"

Aku belum mau menjawab. Masih ingin memuaskan diri menikmati indah wajah tanpa pemanis di hadapanku ini. Meski ia jengkel.

"Kau masih saja begitu. Tidak pernah berubah dan tidak menyenangkan."

"Tanyakanlah sedikit kabar. Atau basa-basi yang lain. Sedikit saja. Jangan begitu!"

Aku hanya tersenyum. Tersenyum melihat wajah jengkel itu, yang bikin aku ingin segera tidur, lalu bermimpi. Mimpi dia tentunya.

"Kapan terakhir kali? Ah, sudah lama sekali, aku sudah tidak pernah lagi mendengar cerita-cerita fantastis darimu?"

Ia menghela nafas. Berdiri hendak pergi.

"Kabari aku jika kamu sudah seperti dulu. Nyaman dan menyenangkan. Aku tidak perlu hal lain yang berlebihan."

Wanginya hampir pergi. Tapi aku tidak akan melewati ini begitu saja. Ini sudah jarang sekali terjadi.

"Akan tetapi," berusaha mencari kalimat yang paling sederhana, "Engkau masih tetap cantik!"

"Ah, apapun itu, aku tidak dengar. Meski seisi kampus ini mendengar."

"Ya. Karena aku mengatakannya dari dalam hati sedalam-dalamnya."

"Tentu aku tidak dengar."

"Meski aku mau dengar."

Dia pergi. Aku tersenyum mendengar kalimat terakhirnya. Begitupula dengan ia.

"Percaya saja saya,"

Lagi. Kuucapkan dari dalam hati.

"Engkau masih tetap cantik."

Namun ia tetap pergi.


*Kios fotokopi kampus.
Ah, saya lupa mencatat waktunya!
Grrrrrrr!!!!!!!!!!

Sabtu, 01 Januari 2011

Welcome, new year

Ketika Langit berwarna-warni, pergantian tahun terjadi.


Apa salahnya duduk sendiri, memilih memisahkan diri dari huru-hara yang sedang terjadi?

Keramaian sudah sering saya alami. Saya hampir bosan dengannya. Ia membuat saya sering lupa diri. Lupa mimpi. Ia membahagaiakan namun melupakan. Ia ceria namun sakit. Terkadang terasa tak berarti apa-apa, hanya sebatas pengusiran jenuh hati per sekian saat saja.

Kini, saya hanya ingin menikmati sepi. Mensantap kesendirian di atas keramaian yang dihidangkan. Merenung seperti gunung. Mengevaluasi aliran air terjun dari dalam diri. Menghirup sejuk udara prestasi. Mengingat-ingat segala mimpi dan pencapaian. Merotasi. Meleburkan setiap sakit hati yang selama ini saya rasakan. terakhir, bersyukur.

Jadi, apa saja yang telah saya lakukan selama ini? Itu saja inti yang ingin saya dapatkan pada malam ini.

Under fireworks,
00.47

Jumat, 24 Desember 2010

Seorang arsitektur

Sebuah kisah, ada seorang arsitek yang bekerja di suatu perusahaan .

Setelah bertahun-tahun mengabdi pada perusahaan tersebut, si arsitek karena sudah berusia cukup tua berencana untuk pensiun. Namun karena dedikasi si arsitek tersebut kepada perusahaan amatlah tinggi dan posisinya sangat penting di perusahaan tersebut, si manajer perusahaan tidak mengizinkannya untuk pensiun.

Si Arsitek bersikeras untuk tetap pensiun. Karena ia merasa sudah saatnya untuk pensiun. mengingat usianya yang sudah lanjut, dan ingin segera manghabisi sisa hidupnya.

Akhirnya setelah berkali-kali membujuk si manajer, Si arsitek pun mendapatkan izin untuk pensiun, dengan syarat ia harus mengerjakan proyek istimewa yang diberikan oleh manajer.

Proyek istimewa tersebut adalah ia harus merancang sebuah bangunan rumah di atas tanah seluas 500m2 dengan dana yang akan disediakan oleh perusahaan. Jangka waktu yang ditentukan adalah empat bulan lamanya.

"Baiklah saya akan mengerjakan proyek tersebut. Bahkan saya akan mengerjakannya hanya dalam waktu 2 bulan saja." Ucap si arsitek tersebut.

Akhirnya si arsitek tersebut pun mulai mengerjakan proyek tersebut.

Ia membuat bangunannya hanya seluas seratus meter. Sisanya hanya ia biarkan saja menjadi halaman kosong.

"Untuk meminimal dana!" Pikirnya.

Bahan material bangunan tersebut ia gunakan yang kualitas tiganya. Karena ia pikir proyek ini haruslah dibuat seminimal mungkin biayanya. Agar perusahaan tidak banyak keluar dana. Perancangan keseluruhannya pun bisa terbilang biasa saja. Hanya dikerjakan "sejadinya'.

"Toh, ini hanya proyek biasa saja. Bukan proyek istimewa seperti yang dikatakan. Hanya membangun rumah sederhana saja." pikirnya.

Akhirnya dua bulan kemudian, rumah tersebut pun jadi. dari luar bangunan rumah tersebut memang terlihat sangat istimewa. Namun bahan-bahan bangunan yang digunakan adalah bahan-bahan kualitas rendah. Bukan kualitas yang bagus.

Ia pun melapor kepada menajer perusahaannya bahwa ia telah memyelesaikan pekerjaan yang disebut "Proyek Istimewa" tersebut. Dan ia memohon diri untuk segera pensiun dan berhenti bekera.

"Baiklah kamu boleh pensiun. Dan hari ini kita akan mengadaan acara pelepasan kamu bersama seluruh staf dan karyawan di perusahaan ini." Ucap si manajer.

Akhirnya berkumpulah seluruh staf dan karyawan perusahaan tersebut di sebuah ruangan untuk mengadakan pelepasan si arsitek yang ingin pensiun itu.

"Saudara-saudara sekalian, hari ini arsitek senior kita ini akan pensiun. Sebagai penghormatan perusahan atas jasa dan dedikasinya, maka kami memberikan hadiah sebuah rumah yang baru saja ia dirikan."

Seluruh hadirin pun bertepuk tangan. Namun si arsitek terbengong-bengong mendengar pernyataan manajernya itu.

"Kalau saja saya lebih lama mengerjakan proyek pembangunan rumah tersebut.....

Kalau saja saya membuat rumah tersebut lebih bagus lagi....

Kalau saja bahan bagunan yang saya gunakan adalah bahan-bahan kualitas terbaik....

Kalau saja saya mendirikan bangunan rumahnya lebih besar lagi....

Kalau saja saya .....

Kalau saja ......

Kalau saja....."

Begitulah kehidupan di dunia ini. Hakikatnya apapun yang kita lakukan, apa yang kita kerjakan, apa yang kita berikan akan kembali ke diri kita sendiri. Semuanya akan bermanfaat dan berikan manfaat kepada diri kita sendiri kelak. begitu pula dengan keburukan yang kita kerjakan .

Semoga bermanfaat . :)


Untuk arsitektur kasih sayangku .
Kau di hatiku, di rasa sesalku, di doaku, selamanya ...
Malam sabtu, 24 Desember 2010..