Ini Cerpen Pertama saya ketika saya berhasil mebuat sebuah cerpen.
Judulnya ANAK NELAYAN
Judulnya ANAK NELAYAN
...
“Ardi ingin punya sepeda.” Suara Ardi lemah, sambil tertunduk lesu menatapi piring berisi sarapan paginya.Ibu dan ayah yang juga sedang asyik menyantap sarapan pagi seadanya pun kaget mendengar permintaan Ardi tersebut.
Setiap pagi, mereka memang selalu sarapan pagi bersama. Walupun hanya dengan nasi putih sisa makan malam yang dihangatkan kembali oleh ibu, dan beberapa potong tempe , yang juga sisa makan malam yang digoreng kembali, sebagai lauknya.
“Ardi, kamu kan tahu sudah beberapa minggu ini ayahmu tidak pergi melaut. Ayahmu belum punya uang. Nanti kalau ia sudah punya uang pasti dibelikan.” Ucap ibu lembut mencoba menghibur Ardi.
“Tapi kan ayah sudah lama janji ingin membelikan Ardi sepeda, Bu!” nada suara Ardi semakin tinggi. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Iya, tapi kan uang nya belum ada, Ardi! Sabar ya!” ibu mengelus-elus pundak Ardi berusaha menenangkan. Kemudian matanya menatap ke arah suaminya yang sedang tertunduk pasrah, mengusap-ngusap keningnya yang lebar, pusing memikirkan beban hidup yang harus ditanggungnya.
Terlintas dipikiran ayah hutang di sana-sini yang belum terbayarkan. Cicilan kredit perahunya pun dua bulan masih menunggak, dan sebentar lagi akan ditarik oleh KUD jika tidak segera dilunasi. Belum lagi tagihan uang sewa kontrakan yang mereka tempati, berbulan-bulan belum dibayar. Untungnya, sang pemilik kontrakan, Haji Bestari berhati baik. Dia tak akan mungkin sampai hati mengusir keluarga nelayan bernasib malang ini jika tidak juga membayar uang sewa kontrakannya.
.”Teman-teman Ardi yang lain sudah memiliki sepeda. Mereka selalu pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda. Ardi iri sama mereka.”
Ayah tertegun mendengarkan perkataan anak kesayangan satu-satunya itu. Sudah lama Ia berjanji kepada Ardi akan mebelikannya sepeda. Dahulu, ketika Ardi masih duduk di bangku kelas empat sekolah dasar, ia berkata kepada anak tunggalnya itu bahwa ia akan membelikan sepeda jika Ardi naik ke kelas lima . Namun, sekarang Ardi sudah duduk di kelas enam, dan sampai saat ini ia tak kunjung memenuhi janjinya itu kepada Ardi. Wajar jika saat ini Ardi menagihnya.
“Ya sudah. Hari minggu besok kita beli sepeda.” Ucap ayah sambil tersenyum menatap Ardi.
“Tapi kan , yah...,” Ibu ingin mengatakan sesuatu, namun cepat dipotong oleh tatapan yang mengisyaratkan sesuatu. Ibu hanya diam seribu bahasa.
Wajah Ardi berangsur-angsur berubah menjadi sedikit cerah. Ia mengangkat wajahnya yang dari tadi menunduk. Kini ia menatap mata ayah, mencari kepastian kebenaran apa yang telah diucapkannya. Ayah membalasnya dengan senyum mantap, berusaha meyakinkan anaknya. Ia telah bertekad tidak akan mengecewakan anaknya lagi. Ibu pilu melihat pemandangan itu. Namun ia menguatkan hatinya. Berusaha tidak meneteskan air mata.
“Sekarang cepat habiskan sarapanmu. Nanti kamu terlambat.”
Ardi bergegas menghabiskan sarapannya. Lalu bangkit mengambil tas punggungnya. Ia langsung berlari menuju sekolah setelah mencium tangan kedua orang tuanya. Semangatnya menyala kembali.
Sesampainya di sekolah, Ardi kembali belajar sebagaimana biasa. Ia sudah tidak sedih lagi. Ia sangat yakin, kali ini ayahnya akan memenuhi janjinya. Ia mulai membayangkan betapa senangnya nanti kalau sudah memiliki sepeda. Ia akan ikut dengan teman-temannya bersepeda sepulang sekolah. Ia sudah tak sabar menanti hari-hari itu
Tiba-tiba bapak Kepala Sekolah masuk ke kelas Ardi. Beliau mengumumkan sesuatu. sebuah kabar duka cita.
“Anak-anak sebelum pelajaran kalian diteruskan kembali, bapak ingin mengumumkan kabar duka cita. Ayah dari teman kita, Fuadi yang hari ini tidak masuk, telah dipanggil oleh Allah SWT tadi malam karena tenggelam di laut.
Memang akhir-akhir ini keadaan laut sangat tidak bersahabat. Badai selalu datang mengamuk. mengaduk laut. Sehingga penduduk di sini yang sebagian besar bermata pencahariaan sebagai nelayan, tidak berani mancari ikan karena takut di makan amukan laut, Seperti ayahanda teman kita ini. Untuk itu mari kita berdoa untuk ayahanda teman kita, serta untuk kita, orang tua kita, dan seluruh penduuk di desa ini, semoga selalu dalam perlindungan Allah SWT. Amiiin… Berdoa mulai…”
Semuanya tertunduk, khusyu. Berdoa menurut keyakinan masing-masing. Namun Ardi tidak. Ia cemas. Pikirannya tertuju kepada ayahnya. Ia takut membayangkan ayahnya yang memaksakan diri untuk berlayar demi mencari uang untuk membelikannya sepeda. Hatinya gelisah membayangkan sesuatu yang sangat tidak diinginkan yang akan terjadi dengan ayahnya nanti di tengah laut.
Ia menjadi tidak konsentrasi dengan pelajaran. Ia sangat ingin pulang untuk mamastikan ayahnya tidak pergi melaut. Tetapi ia tidak berani untuk meminta izin kepada gurunya untuk pulang lebih awal. Karena ia tidak punya alasan kuat untuk itu.
Waktu berjalan sangat lambat. Ardi semakin resah dan panik. Berkali-kali ia menengok ke arah jam dinding. Tak sabar menanti waktu pulang. Namun waktu semakin lambat bergerak, membuat hatinya semakin gusar.
Akhirnya bel pun berdering panjang. Waktu pulang pun tiba. Ardi langsung bergegas membereskan alat tulisnya. Lalu langsung lari sekencang-kencangnya meninggalkan sekolah. Ia berharap setibanya di rumah, ia masih melihat ayahnya sedang membetulkan atap rumah yang sering bocor ketika hujan lebat, atau sedang memperbaiki lemari pakaian yang sudah keropos dan hampir rubuh. Dalam hatinya, Ardi berjanji akan membatalkan keinginannya untuk memiliki sepeda jika ia masih berjumpa ayahnya di rumah.
Ardi menyesali kejadian tadi pagi. Ia mulai sadar, permintaanya untuk dibelikan sepeda sangat membebani ayah. Ayah yang hanya seorang nelayan telah berjuang mempertaruhkan nyawanya di atas ganasnya laut demi mencukupi kehidupan dan pendidikannya. Ia seharusnya tidak lagi membebani sang ayah dengan permintaan yang sangat berat untuk dapat dipenuhi. Ardi menangis. Namun ia tetap terus berlari.
Tiba di rumah, firasat buruknya sejak tadi semakin ia rasakan. Ia hanya melihat ibu sedang duduk di teras rumah seorang diri. Wajah ibu pucat. Walaupun air matanya tak menetes, tetapi tampak jelas wajah ibu sangat sedih dan pilu. Tatapan mata ibu kosong, lurus ke arah laut. Seakan marah terhadap laut.
Ardi sudah tak berdaya. sekujur tubuhnya lemas. Nafasnya terengah-engah, hampir habis. Ia merasa sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi. Air matanya semakin deras menetes. Dikumpulkan sisa-sisa tenaganya. Lalu berlari masuk ke dalam rumah. Di hampiri lemari tempat biasa ayah menaruh jala dan peralatan lainnya untuk melaut. Akan tetapi kosong. Isinya telah dibawa oleh sang pemiliknya untuk berjuang menantang maut. Menantang ganas nya laut.
Ardi sudah tak sanggup lagi menahan tangisnya. Ia kembali berlari sekuat tenaga. Kali ini tujuannya adalah laut yang terletak beberapa ratus meter di depan rumahnya.
Langit mulai tampak mendung. Angin bertiup kencang. Cuaca mulai memburuk. Ardi tetap terus berlari. Menerobos ilalang yang tumbuh di antara pohon-pohon kelapa yang tumbuh tinggi menjulang. Menapaki pasir-pasir pantai yang berjumlah ribuan. Menendang-nendang riak-riak ombak yang berkejeran. Ia terus berlari. Tak peduli air laut terus membasahi tubuhnya. Seperti ingin mengejar seseorang yang akan pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
“Ayyyyyyyaaaaaaaahhhhhhh……!!!”
Teriakannya lenyap ditelan gemuruh ombak yang semakin ganas. Pecah disambar halilintar yang bergelegar. Tanda badai besar akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar