Sabtu, 15 Mei 2010

Banjir...!!!

Mungkin karena saking serunya menyaksikan kehebatan tim ganda Indonesia melumat Jepang dalam perebutan Piala Thomas 2010 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, saya tidak sadar kalau ternyata di luar hujan turun sangat deras. Sederas nasionalisme saya ketika itu. Ya, mungkin hanya ketika itu. Entah kenapa rasa cinta dan bangga terhadap negeri sendiri timbul dalam diri saya hanya pada saat menonton bulu tangkis. Selain dari itu, saya cenderung muak dengan keadaan negeri ini yang semakin menyedihkan: wan prestasi, hobi korupsi, dan sebaginya.

      Dan ternyata hujan deras yang menurut saya tidak terlalu lama ini berbuah banjir di sana-sini.

        Ya beginilah kota Jakarta. Sebagai ibukota negara, sebagai kota metropolitan, masalah banjir masih selalu menghantui warganya. Jika hujan deras datang sebentar saja, banjir langsung terjadi. Ada hujan, ada banjir, mungkin begitu ungkapannya.


         Omong masalah banjir, saya menjadi ingat sebuah cerita fantastis dan mengesankan yang pernah diceritakan oleh ayah saya dulu. Sampai sekarang masih sangat jelas dalam ingatan saya cerita itu.

            Ceritanya begini:

            Alkisah ada seorang yang sudah berusia cukup tua. Ia adalah__ayah saya menyebutnya al-abid__orang yang rajin beribadah. Ia tinggal disebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah itu sangat dekat letaknya dengan sebuah sungai.

Suatu ketika, hujan deras datang berturut-turut, tidak kunjung berhenti dalam beberepa hari. Para warga yang tinggal di dekat sungai tersebut pun mulai melakukan pengungsian karena sadar banjir akan datang. Mereka menyelamatkan semua hal yang mereka miliki dan mereka cintai, termasuk diri mereka dan keluarga. Namun, berbeda dengan warga lainnya, orang tua tersebut tak kunjung melakukan pengungsian. Ia hanya berdiam diri di dalam rumahnya yang sedang terancam kebanjiran itu. Dirinya sangat yakin, Dalam keadaan seperti ini, Tuhanlah yang akan menolongnya. karena ia telah rajin beribadah kepada-Nya.

Akhirnya, seperti yang telah diduga sebelumnya, banjir besar pun datang. Tanpa pilih kasih, tanpa pilih sayang, tanpa ampun, tanpa kasihan, ia menenggelami semua yang dilewati, semua yang dihampiri. Temasuk rumah kecil milik orang tua yang rajin beribadah tersebut.

Dalam waktu singkat, banjir telah mencapai setinggi lutut orang dewasa. Orang tua itu tidak kunjung berniat untuk mengungsikan dirinya. Dia hanya berdiam diri di dalam rumahnya saja, tidak ada usaha untuk menyelamatkan dirinya. Sampai akhirnya datanglah seorang anak muda yang bermaksud menolong orang tua tersebut. Namun orang tua tersebut menolak seraya berkata:

“Hai anak muda, kau tidak perlu repot-repot menolongku. Karena aku yakin, Tuhanlah yang akan menolong aku. Karena aku telah menghabiskan waktuku untuk beribadah kepada-Nya.”

Anak muda tersebut pun pergi meninggalkan orang tua yang tak mau ditolong itu.

Selang beberapa waktu kemudian, banjir semakin meninggi karena hujan tak kunjung berhenti. Kini banjir sudah setinggi kurang lebih satu meter. Namun si ahli ibadah itu tak juga keluar dari rumahnya. Sampai akhirnya datanglah seorang relawan sebuah LSM dengan perahu karetnya yang sedang mencari korban yang masih terperangkap banjir. Relawan tersebut menemukan orang tua itu dan mengajaknya untuk naik ke atas perahu, bermaksud ingin menolongnya.

“Naiklah ke atas perahu! Banjir akan semakin besar dan mengerikan.” Ucap relawan tersebut kepada orang tua itu.

“Tidak perlu! Karena Tuhanlah yang akan menolongku.”

Akhirnya relawan tersebut pun pergi. Orang tua itu tetap tidak mau menerima pertolongan dari siapapun. Padahal, banjir semakin hari semakin besar. Hujan semakin deras dari hari ke hari.

Sampailah pada akhirnya banjir menenggelami seluruh rumah di daerah itu. Seluruh rumah di wilayah itu kini hanya terlihat atapnya saja, sisanya terendam banjir. Rumah orang tua itu pun begitu. Ia terpaksa menyelamatkan dirinya dengan naik ke atas atap rumahnya. Nyawanya sudah sangat terancam karena tidak ada tanda-tanda banjir akan reda dan hujan akan berhenti. Sementara penduduk lain semuanya telah mengungsi.

Tidak ia sangka, sebuah helikopter dating untuk menyelamatkannya. Namun lagi-lagi ia menolak. Sebab ia sangat yakin Tuhan lah yang akan menolongnya. Karena ia telah merasa berbakti kepada-Nya, jadi mana mungkin Tuhan tidak menolongnya? Begitulah pikirnya.

Seorang petugas yang berada di dalam helikopter tersebut terus berteriak-teriak meminta agar orang tua yang tidak mau diselamatkan itu untuk naik ke helikopter itu.

“Pak tua, naiklah ke helikopter ini. Banjir akan semakin besar dan menenggelamkan mu! Setelah ini ‘tak akan ada lagi yang akan mampu menolongmu. Naiklah!” petugas tersebut berusaha terus membujuk orang tua itu.

 “Tuhan pasti menolongku!”

Orang tua tersebut tetap tidak mau untuk ditolong. Dan malang nasibnya, banjir semakin besar. Ia pun tenggelam. Dan ajal pun menjemputnya.

Saat menghadap Tuhan, orang tua tersebut mencoba protes kepada Tuhan:

“Ya Tuhan, bukankah aku telah mengabdi hanya kepada-Mu dengan sepenuh hati dan jiwaku. Tetapi mengapa Engkau tidak menolongku ketika itu di saat aku membutuhkan pertolongan hanya dari-MU?”
Tuhan pun berkata :

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah berkali-kali mengirimkan pertolongan-Ku kepadamu melalui hamba-hamba-Ku yang datang untuk menolongmu.

Ketika banjir masih belum terlalu tinggi, Aku dengan kasih sayang-Ku kepadamu telah mengirimkan seorang anak muda untuk menolongmu. Namun kau menolak pertolonganku.

Aku masih terus berusaha menolongmu setelah itu. Ketika banjir mulai ganas dan sudah mencapai satu meter tingginya, Aku berusaha menolongmu melalui seorang hamba-Ku yang datang dengan sebuah perahu karetnya. Ia telah Aku perintahkan untuk membantumu menyelamatkan dirimu. Akan tetapi, lagi-lagi kau menolak pertolongan-Ku.

Dan terakhir, ketika banjir sudah sedemikan besarnya, sehingga kau sudah tidak memungkinkan lagi untuk bisa selamat, Aku dengan sifat kasih sayang-Ku masih berusaha untuk menyelamatkanmu dengan mengirimkan sebuah helikopter agar dapat membawamu ke tempat yang aman. Namun, kau tetap tidak mau untuk Aku selamatkan. Akhirnya kau pun tenggelam karena menolak pertolongan-Ku. Itulah pilihanmu, hai hamba-KU!”

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerita di atas.





Dalan hadits kudsi-Nya, Allah telah berfirman :

“ Dalam keheningan yang mengelilingi setiap seruan

'Ya Allah!'

  Menanti seribu jawaban


   'Aku di sini.'  "




Siang ketika rindu,15 mei 2010.
14.15 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar