Selasa, 04 Mei 2010

Berduka

Sepulang kuliah, ada kabar cukup tidak enak sampai ke telinga.

"Ayah temanmu itu, si Ibnu, Bapak Haji Marzuki, meninggal dunia barusan." Ibuku bilang begitu.

Aku yang capek karena baru pulang tambah capek mendengar itu. Artinya hari ini nyaris tidak ada istirahat.

Di handphoneku pun kuterima kabar serupa, dari kawanku, ketua remaja mushollah. Ia mengajak untuk melayat bersama. Aku setuju. setelah Ishoma *Istirahat, Sholat, Mandi, aku mengenakan pakaian ter-sholeh ku, baju taqwa berwarna krem dan sarung gajah duduk, tanpa kopiah. Kemudian menuju rumah duka.

Ternyata teman-temanku juga sudah banyak yang datang, termasuk teman-teman smp aku dan si Ibnu, yang berduka. Adapun aku datang sesuai cerita, bersama remaja Mushollah. kami pun masuk ke rumah duka. Memberikan salam belasungkawa kepada keluarganya, lalu duduk menghampiri sang jenazah. Aku gugup, jantungku kencang berdegup.

Tanpa basa-basi, kami memulai mendoakannya. Memimpin ketua remaja musholah, surat Yasin pun mengalun dibaca bersama.

"Yaaasiiiin, Walquranilhakim. Innakalaminal mursaliin......."

Mataku tak berpaling dari jenazah yang terlihat damai itu. Mungkin, setelah lelah memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan di alam fana ini, ia mulai merasa lega dengan segal yang ia capai. Tugasnya telah selesai. Aku terus memperhartikan orang tua temanku yang sudah tak bernafas itu. Dari wajah yang ia pancarkan di akhir hayatnya ini, dari ekspresi sanak keluarga yang telah ia tinggalkan, aku mengambil kesimpulan ia adalah orang tua yang baik. Ia sukses menjalani perannya sebagai Ayah.

Tiba-tiba pemandangan di hadapanku ini, lamunanku ini, mengingatkanku pada apa yang aku alami dua tahun lalu. Sama persis. Tubuh yang terbujur kaku dihadapanku kembali mengingatkanku pada sosok yang juga pernah terbaring seperti ini di hadapanku.

Sosok itu mempunyai stok kasih sayang yang tak pernah habis. Ia jarang bicara. Namun apa yang ingin kau ketahui tentang hidup ini, dapat kau pelajari dari dirinya hanya dengan memperhatikan gerak-gerik dan apa yang dikerjakannya sepanjang hari. Dialah idolaku selamanya.

Untuk kesekian kalinya aku merasakan kangen yang tidak dapat kujelaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar