Aku lahir dalam kondisi sama seperti umumnya bayi-bayi yang telah dilahirkan sebelumnya: normal dan menangis. Di sebuah rumah bersalin yang hanya memiliki sebuah kamar, Ayahku menjadi orang yang pertama mengumandangkan adzan di telinga kananku, dan iqamah di telinga kiri. Dan ia memberiku nama Imam Tanthowie. “Imam” artinya seorang pemimpin, sedangkan “Tanthowie” diambil dari nama seorang pengarang tafsir terkenal yang sangat mulia akhlaknya. Ibu sangat senang dengan nama itu.
Ibu juga sangat senang karena kelahiranku ini tidak membutuhkan dana sepeserpun. Karena bidan pemilik rumah bersalin ini merupakan kemenakan ibu. Ia mengratiskannya kepada kami, karena ini merupakan debutnya dalam mengurus sebuah persalinan. Setelah lulus dari sekolah tinggi kebidanan, ia langsung membuka rumah persalinan dirumahnya. Dan kami menjadi pasien perdananya. Ia sangat berterimakasih kepada keluarga kami. Terutama kepada bayi lucu yang baru saja ia selamatkan lahir ke dunia.
Masa kecilku adalah masa kecil anak-anak kecil kebanyakan. Senang bermain sampai lupa perut kosong, benci makan nasi, menangis ketika minta uang jajan, minum minuman tak bermerek bergelas-gelas, serta berlari-lari di jalan beraspal tanpa menggunakan sandal. Masa kecilku baru terlihat istimewa ketika aku telah diperbolehkan duduk di bangku sekolah. Ketika telapak tanganku sudah sampai ke telinga melewati ubun-ubun kepala.
Aku bersekolah di sebuah madrasah yang sudah cukup tua. Ayahku salah satu pengasuhnya. Di sekolah inilah baru aku temui segala keistimewaan yang ada pada diriku. Segala sifat yang tak biasa yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusiaku. Serta segala kelebihan yang aku memiliki yang membuat orang-orang yang mengenalku berdecak kagum tak henti memujaku. Termasuk ayahku. Juga ibuku.
Sejak hari pertama aku bersekolah, aku tidak pernah di antar orang tuaku. Padahal sekolah pertamaku dulu itu bisa dibilang sangat jauh untuk anak seumuranku. Bagiku bersekolah tanpa diantar lebih menyenangkan. Karena aku merasa bebas untuk membeli jajanan apapun yang aku mau di sekolah, tanpa ada yang memarahi. Selain itu, aku bisa berlama-lama di jalan pulang kerumah,sambil menghitung mobil-mobil bagus yang lewat jalan raya.
Setiap hari di sekolah aku selalu menjadi perhatian guru-guru. Menurut mereka aku siswa yang cerdas, berani, dan ‘pentes’. Bahkan mereka menganggap aku seharusnya sudah pantas naik ke kelas dua tanpa harus melewati kelas satu lebih dahulu. Namun, karena tulisan tanganku yang berwujud buruk dan tak rapih menjadi alasan aku harus melewati kelas satu lebih dahulu. Maklum, sebelum masuk madrasah, aku tidak mau disekolahkan di taman kanak-kanak lebih dahulu. Karena aku menganggap taman kanak-kanak hanyalah sebuah sekolah untuk anak-anak. Walaupun sebetulnya aku juga anak-anak.
Enam tahun sekolah, seabrek prestasi aku raih. Dari kelas satu sampai kelas lima , berturut-turut aku selalu menjadi juara kelas. Aku pun lulus madrasah dengan nilai tertinggi yang sangat tinggi. Namun nilai yang ku raih waktu itu tidak terlalu berpengaruh membawaku ke sekolah tingkat lanjutan favorit. Karena sitem tes masuk sekolah menengah pertama saat itu mulai diberlakukan. Dan aku tidak mendapat kesempatan mengikuti tes-tes itu. Aku sakit waktu itu.
Selanjutnya, di sekolah tingkat lanjutan aku mulai mengalami banyak perubahan. Aku jadi sering bolos sekolah, bolos mata pelajaran, keluyuran malam, nongkrong bergitaran dengan teman-teman, bahkan aku sudah mulai merokok dan berpacaran. Perubahan yang terjadi yang aku rasakan menurutku disebabkan oleh pergaulanku yang mulai meluas. Aku mulai memiliki banyak teman dari beragam sisi yang berlainan. Untungnya, efek perubahan itu belum terlalu berdampak negatif bagi prestasiku. Aku masih bisa berprestasi, dan mencetak nilai tinggi. Hingga membawaku ke sekolah negeri.
Aku mengharapkan sekolah negeri akan memacuku untuk lebih berprestasi. Namun, lagi-lagi pergaulan mengacaukan segalanya. Tampaknya, kalimat “semua berawal dari pergaulan” yang keluar dari mulut temanku yang sangat “jeniyus” itu memiliki sebuah nilai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Seperti yang kurasakan, aku berubah menjadi orang malas, bengal, bahkan bodoh tanpa secuil pun prestasi disebabkan oleh pergaulan, salah pergaulan lebih tepatnya.
Terjangkit depresi dan sifat minder yang mengawali masa SMAku, membuatku merasa perlu mengadakan perubahan. Aku merasa tidak sudi melewati masa-masa ‘putih abu-abu’ _yang kata orang merupakan masa-masa yang paling indah_ hanya sebagai orang yang “dimarjinalkan”.orang yang dipinggirkan, tak dianggap, mudah dilupakan. Aku ingin mengukir namaku di kepala orang-orang yang berdampingan denganku. Aku ingin kepala sekolah dan wakil-wakilnya, para guru, siswa, komite sekolah, ketua osis, penjaga sekolah, ibu-ibu kantin dan semua makhluk hidup yang ada di tempat ini mengenalku. Sayangnya, aku menempuh jalan yang salah.
Aku mengawalinya dengan bergaul bersama orang-orang yang mungkin mempunyai satu visi denganku. Bergaul dengan mereka yang senang menciptakan keonaran di sana-sini, menikmati pelangaran yang dilakukan, serta membuat keributan yang tak jelas tujuannya. Mereka menganggap apa yang dilakukan akan membuat mereka dikenal lebih cepat, dihargai, dan disegani. Sungguh sebuah pemikiran yang sangat naïf sebenarnya. Tapi aku melah berfikir sama seperti itu. Aku sama bodohnya dengan mereka.
Mulailah aku yang awalnya ‘ikut-ikutan’ lama-lama menjadi terbiasa melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan. Bahkan aku lebih profesional dari mereka. Aku pernah berhasil membuat sembilan pelanggaran berat dalam satu bulan. Rekor yang menakjubkan. Belum ada sebelumnya. Ini menyebabkan ayahku harus mondar-mandir memenuhi pangilan dari sekolah. Padahal, beliau saat itu sudah sangat tua dan rentan dengan penyakit. Tapi aku malah menyiksanya dengan hal yang sangat memalukan. Sungguh aku merasa sangat berdosa saat itu.
Lebih buruknya lagi, kelakuan bejat ku itu tidak hanya kulakukan disekolah. Bahkan di rumah. Aku menjadi orang yang pembangkang, selalu bertolak belakang dengan apa yang telah orang tuaku ajarakan. aku doyan membuat orang tua dan seluruh keluargaku tertekan. Aku gemar meningalkan coreng hitam di wajah ayah, yang membuat malu orang-orang satu darah denganku. seolah-olah puberitas menuntutku untuk berlaku sejahat itu. Aku menjadi pribadi yang sangat buruk, sangat di benci. Ibarat rupiah yang anjlok nilainya terhadap dolar pada masa krisis moneter, begitulah drastisnya kemerosotan moralku. Aku merasa bukan menjadi dirku lagi.
Semua yang aku lakukan itu memiliki akibat yang sangat merugikan bagiku dan kehidupanku. Aku harus menangung resiko dari perbuatan tololku itu. Nilai-nilai yang terjun bebas di setiap mata pelajaran, surat peringatan, skorsing, dihujat, dibenci, tak di perdulikan keluarga, semua harus kuterima walaupun pahit. Semua kuterima, tetapi tidak kujadikan pelajaran juga.
Tapi semua itu segera berlalu. Di penghujung masa SMAku, aku merasa mendapatkan sebuah petunjuk yang menyadarkan kekeliruan pikiranku. Aku yakin, Allah mengabulkan doa orang-orang yang masih menyayangiku, diantaranya ibu dan ayahku, yang mengharapkan agar aku berubah menjadi orang yang lebih berfikir maju, yang mendambakan agar aku bias menjadi orang yang membanggakan. Aku pun mulai belajar berfikir lebih dewasa, belajar menghargai pengorbanan orang-orang yang telah berkorban untukku, serta belajar menjadi pribadi yang di senangi oleh orang yang selama ini benci aku. Aku mulai berusaha keras untuk mewujudkan semua itu.
Setelah masa-masa indah yang merah itu berlalu, kini aku memasuki masa yang baru. Masa yang paling menentukan arah hidupku. Di perguruan tinggi ini setidaknya aku akan berusaha melakukan sesuatu yang dapat menerangi masa depanku. Masa depan yang sejak kecil sudah aku targetkan sebagai masa untuk membahagiakan orang tuaku. Dan masa depan itu kini semakin dekat. Artinya masa untuk membahagiakan orang tuaku juga sudah semakin dekat. Dan aku akan mempertaruhkan segalanya demi mempersiapkan kedatangan masa itu. Demi kebahagiaan satu-satunya orangt tuaku yang tersisa.
Rumah yang semakin sepi, 26 oktober 2009.
03.19 pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar