Senin, 10 Mei 2010

Lalat dan Jidat


Lalat dan Jidat

Galih seorang pemalas. Walaupun sudah cukup berusia, namun ia masih tidak mau bekerja. Ia hanya menganggur setiap hari. Ia lebih senang nongkrong di warung kopi, membicarakan hal-hal yang tidak penting dan hanya membuang-buang waktunya, bersama orang-orang lain sesama pengangguran.
            Suatu hari, ia melihat seorang gadis cantik melintas di hadapannya. Gadis itu berkulit putih. Hidungnya mancung. Dan yang lebih menarik hati Galih adalah bentuk tubuh gadis itu yang sangat aduhai. Galih jatuh cinta kepadanya. Ia sangat ingin berkenalan dengan gadis itu.
            Gadis itu bernama Mirna. Ia adalah anak dari seorang pemilik panti asuhan di kampung sebelah. Galih memutar otaknya. Mencari cara agar ia dapat berkenalan dengan gadis itu. Akhirnya ia mendapatkan ide. Ia akan berpura-pura menjadi gelandangan agar ia dapat diterima untuk tinggal di panti asuhan itu. Dan setelah ia tinggal di situ, ia merasa akan lebih mudah untuk berkenalan dengan gadis itu. Galih pun mulai menyusun rencana secara matang.
            Rencana Galih berhasil. Setelah ia berhasil berpura-pura menjadi gelandangan dengan memakai pakaian yang compang-camping dan tubuhnya yang sengaja dibuat supaya terlihat kotor, ia pun diajak pak Haji Samin, sang pemilik panti asuhan, untuk tinggal di panti asuhannya.
            “memangnya nama kamu siapa, nak?” pak Haji Samin menanyakan identitas Galih yang sedang berpura-pura menjadi gelandangan itu.
            “Nama saya Jidat, Pak Haji!” jawab galih berbohong.
            “kok nama kamu aneh sekali?” sekarang giliran bu Haji Minah, istri pak Haji Samin, yang bertanya.
            “memang sudah dari sananya nama saya seperti itu, Bu Haji!”
            Pak Haji Samin dan istrinya pun percaya dengan ucapan Galih tersebut. Mereka pun mengantarkan Jidad alias Galih ke asrama tempat Galih akan tinggal. Sesampainya di sana galih bertemu dengan penghuni-penghuni asrama lain yang sudah lama tinggal di panti asuhan ini.
            “Nama saya Jidat…  Nama saya Jidat… Jidat…Jidat…” sambil tersenyum dan bersalaman, Galih alias Jidatd mulai memperkenalkan namanya kepada mereka satu per satu.
            Keesokan harinya, Galih melihat gadis yang dulu ia jumpai, yaitu Mirna, putri satu-satunya pak Haji Samin. Mirna sedang menyiram tanaman di depan rumahnya.
            “ini kesempatan,” gumam Galih dalam hati.
            Galih pun keluar dari asrama dan menghampiri Mirna. Namun ketika berhadapan dengan Mirna, Galih hanya berdiri mematung tidak jauh dari hadapan Mirna.
            Melihat orang baru yang sedang berdiri di hadapannya, Mirna memanggilnya.
            “Hei kamu! Anak baru ya? Tolong ambilkan seember air dong di belakang! Cepat ya!” pinta Mirna kepada Galih.
            Tanpa banyak basa basi, galih langsung menuju pekarangan belakang rumah Pak Haji Samin untuk mengambil seember air yang diminta Mirna. Tak lama kemudian Galih kembali membawa ember berisi air, lalu diberikan kepada Mirna.
“Terima kasih ya,” ucap Mirna basa-basi, “oh iya, nama kamu siapa?”
            “Nama saya Lalat, neng.” Galih kembali berbohong dalam memberitahukan namanya.
            “Loh, kok nama kamu aneh sekali?” Tanya Mirna, tidak percaya.
            “memang sudah dari sananya nama saya seperti itu, neng.”
            Mirna pun percaya. Kemudian mereka pun ngobrol cukup lama sampai akhirnya Mirna selesai menyirami tanamannya. Mirna pun masuk ke rumah diiringi tatapan senang Galih.
            “Yes! Berhasil.” Teriak galih, sangat senang.
            Tiba pada suatu hari, hari jumat siang tepatnya, ketika pak Haji Samin dan seluruh penghuni panti asuhan yang laki-laki sedang menunaikan ibadah Shalat Jumat, Jidad melakukan aksinya. Ia mengendap-endap masuk ke kamar Mirna lewat pintu belakang rumah pak Haji Samin. Rumah pak Haji Samin sangat sepi. Hanya ada istrinya yang sedang menjahit di ruang tengah, dan Mirna sedang baca buku di kamarnya.
            Galih berhasil sampai ke depan pintu kamar Mirna tanpa sepengetahuan bu Haji Minah. Ia langsung buka pintu kamar Mirna dan masuk ke dalam kamar.
            Melihat ada orang masuk ke kamarnya tanpa permisi, Mirna kaget dan berteriak sekencang-kencangnya.
            “Aaaaaaahhhhhhhh, iiiiiiibbbbuuuuuuuu…!!! Mirna memanggil ibunya. Galih panik.
            “Ada apa Mirna? Kenpa teriak-teriak gitu?” Sahut ibu dari ruang tengah mendengar teriakan Mirna yang memanggilnya.
            “Ada Lalat Bu masuk ke kamar Mirna!” balas Mirna dengan suara keras, ketakutan. Galih semakin panik dan bingung harus melakukan apa. Dia sudah terlanjur bertindak bodoh. “Habislah Aku hari ini.” Ucapnya dalam hati.
            “Ya ampun, Mirna! Lalat masuk ke kamar kamu aja sampai segitunya. Tinggal semprotkan obat anti serangga aja, nanti juga pergi lalatnya.” Bu Haji Minah belum tahu bahwa sebenarnya yang masuk ke kamar anaknya bukanlah lalat seekor serangga, melainkan Galih, penghuni baru panti asuhan yang Mirna mengenalnya dengan nama Lalat.
            “Ini bukan Lalat serangga, Ibuuuuu! Ini Lalat yng kurang ajarrrrrrrr…!!!” teriakan Mirna semakin keras. Ibu pun penasaran. Lalu menghampiri kamar Mirna.
            Tiba di kamar Mirna, ibu kaget melihat si Jidad alias Galih juga berada di situ.
            “Kurang ajaarrrr..!!!” teriak Bu Haji, lalu mengambil sebuah sapu dan akan di gunakan untuk memukul seorang pria yang telah berkelakuan kurang ajar di dalam rumahnya itu.
            Menyadari situasi semakin gawat, Galih langsung kabur keluar kamar. Lalu ia langsung kabur melarikan diri ari kejaran bu Haji yang terus mengejarnya.
            “Dasar sialan! Jangan lari kau! Tak tahu diuntung!” Bu haji terus mengejar Galih yang semakin pontang-panting. Galih pun memutuskan kabur ke luar rumah. Ia ingin melarikan diri keluar panti asuhan.
            Sementara di luar rumah, pak Haji Samin dan anak-anak penghuni panti yang lain baru selesai menunaikan ibadah shalat jumat. Mereka bingung melihat bu haji sedang berlari-lari mengejar Jidad.
            “Pegaaaang Jidaaaaaad!!!” teriak bu Haji. Bermaksud memberi perintah kepada suami dan anak-anak yang lain untuk menangkap si Jidad yang sedang lari terbirit-birit ke luar panti asuhan.
            Namun pak Haji dan anak-anak lain salah mengerti terhadap yang diperintahkan bu Haji. Mereka malah memegang jidat atau kening mereka masing-masing.
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar